Hidup sebagai proses seleksi dan kompetisi

Posted: Maret 20, 2012 in Bahasa Indonesia

Satu hal lagi yang mesti kita waspadai dalam menjalankan hidup ini yaitu ujian atau seleksi dan kompetisi yang sengaja diatur oleh Tuhan untuk manusia. Bagi manusia yang dapat menggunakan akal kreatifnya akan menyadari bahwa pada hakekatnya hidup merupakan suatu ujian, dimana setiap perbuatan, perilaku dan usaha yang dilakukan oleh manusia tidak lepas dari penilaian-penilaian yang akan menentukan hasil dan nilai rangking dalam perjalanan hidup yang akan datang.

Yang menentukan nilai-nilai hidup adalah seberapa banyak hasil dan prestasi yang bisa dicapai oleh manusia dalam hidup ini. Banyak ayat dalam alquran yang menyebutkan bahwa hidup merupakan ujian , suatu kompetisi yang akan menentukan siapa yang paling baik rangkingnya.

Didalam kehidupan manusia sendiri Tuhan tidak menghendaki seragam, baik dalam keyakinan, madzhab, pilihan hidup, dll justru dibiarkan berbeda. Perbedaan orientasi, keahlian dan pilihan-pilihan itulah yang memungkinkan dan menjadi alasan bagi Tuhan untuk menguji manusia.

Bahkan mufasir besar Rasyid Ridho mengatakan, terhadap masalah-masalah yang menyangkut syariat keagamaan-pun seharusnya kamu jadikan sebagai ajang kompetisi dalam melakukan kebaikan-kebaikan bukan demi merebut tujuan-tujuan fanatisme belaka. Manusia acapkali tanaffus (terjebak) dalam fanatisme sempit sehingga prestasi yang dihasilkan tidak dapat dirasakan oleh semua orang, dengan demikian maka manusia tersebut belum dapat dikatakan sebagai manusia yang memiliki jasa terhadap manusia lainnya, apalagi terhadap Alam atau Tuhannya.

Setiap orang apapun profesi atau kekuasaan yang dicapai tidak akan lepas dari ujian Alloh, kecuali orang yang diskualifikasi. Penilaian Tuhan tidak kepada apa yang dimiliki orang tersebut tetapi kepada bagaimana mendaya gunakan apa yang dimiliki.

Ujian Alloh tidak kepada hal yang tidak menyenangkan tetapi juga kepada hal yang menyenangkan, ada kalanya orang ketika diuji dengan kesenangan lulus, tapi saat diuji dengan kesusahan tidak lulus, begitu juga sebaliknya.
Nabi kita pernah ditawarkan kekayaan oleh Jibril, beliau menolak, dan mengatakan “Saya ingin pada suatu waktu hidup saya berkecukupan agar dapat bersyukur, tetapi pada saat yang lain ingin kekurangan agar bisa bersabar”

Jadi antara kesusahan, kesenangan, duka dan lara, sakit dan sehat, pada hakekatnya sama, Perbedaannya adalah pada penerimaan seseorang menghadapi kondisi tersebut apakah dia Sabar, dengan penuh keSadaran bahwa semuanya itu adalah ujian dari Tuhan, sehingga dia akan menemukan keBenaran, sesuai dengan kehendak Tuhan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s